oleh

Berjalan Kaki dari Binusan, Nurazima Berjuang Kuliah demi Masa Depan Anak dan Orang Tuanya

NUNUKAN,klikkaltara.id – Pukul 06.00 WITA, ketika sebagian orang masih bersiap memulai hari, Nurazima sudah melangkah dari Binusan Kilometer 1 menuju kampus Politeknik Negeri Nunukan. Tanpa kendaraan pribadi, perempuan berusia 26 tahun yang akrab disapa Shima itu harus berjalan kaki, berharap mendapat tumpangan, atau menggunakan jasa ojek sesuai kemampuannya.

Perjalanan menuju kampus menjadi tantangan sehari-hari bagi mahasiswa semester I Program Studi Teknik Alat Berat (TAB) tersebut. Perkuliahan dimulai pukul 07.30 WITA, tetapi keterbatasan transportasi terkadang membuatnya terlambat.

Bagi Shima, perjuangan menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar menyelesaikan perkuliahan. Ada masa depan anak dan harapan kedua orang tuanya yang ingin ia perjuangkan.

Kisahnya terungkap saat kunjungan bersama Ketua Program Studi Teknik Alat Berat, Canda Putri Anggini, untuk mendengarkan keluhan sekaligus melihat langsung kondisi kehidupan yang dijalaninya.

Di usia yang masih produktif, Shima harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Ia memiliki seorang anak berusia lima tahun dan ditinggalkan suami ketika kehamilannya baru memasuki usia dua bulan.

Di tengah tanggung jawab membesarkan anak, ia tetap berusaha melanjutkan pendidikan demi memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.

Tantangan itu bertambah karena Shima bersama keluarganya telah sekitar 10 tahun tinggal menumpang di rumah milik orang lain. Ayahnya kini berusia 70 tahun dan sudah tidak bekerja, sedangkan ibunya berusia 64 tahun.

Sebagai anak ketiga, Shima juga ingin menyelesaikan pendidikan tinggi yang belum berhasil dituntaskan oleh kedua kakaknya. Ia berharap kelak dapat mandiri secara ekonomi, membahagiakan anaknya, dan membuat kedua orang tuanya bangga.

Namun, untuk mencapai cita-cita itu, ia membutuhkan kesempatan dan dukungan nyata.

Keterbatasan transportasi menjadi salah satu persoalan mendesak yang perlu dicarikan solusi agar tidak menghambat keberlanjutan pendidikannya. Koordinasi dengan pihak kampus, serta perhatian pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, diharapkan dapat membuka jalan bagi dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kisah Shima menjadi pengingat bahwa tidak semua mahasiswa memulai perjuangan dari titik yang sama. Bagi sebagian orang, berangkat kuliah merupakan rutinitas. Bagi Shima, perjalanan menuju ruang kelas membutuhkan upaya ekstra setiap hari.

Ia masih berada di semester pertama. Jalan menuju kelulusan masih panjang, dengan tugas, ujian, dan berbagai tantangan yang menanti.

Namun, langkahnya dari Binusan bukan sekadar perjalanan menuju kampus. Ada tekad seorang ibu untuk membangun masa depan anaknya, harapan seorang anak untuk membahagiakan orang tuanya, dan keinginan untuk memutus keterbatasan melalui pendidikan.

Shima tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi juga kesempatan agar perjuangannya tidak terhenti. Sebab, pendidikan semestinya menjadi jalan untuk memperbaiki masa depan, bukan kesempatan yang terhalang oleh keterbatasan ekonomi.(**)