NUNUKAN,klikkaltara.id – DPRD Kabupaten Nunukan mendorong penguatan mitigasi bencana di lingkungan sekolah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kesiapan jalur evakuasi yang dinilai harus dievaluasi untuk memastikan keselamatan siswa dan tenaga pendidik saat menghadapi kondisi darurat.
Dorongan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Nunukan, Muhammad Mansur, saat memantau simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMPN 1 Nunukan, Rabu (21/10/2026).
Menurut Mansur, kegiatan simulasi kebencanaan merupakan langkah penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa dan tenaga pendidik dalam menghadapi situasi darurat. Namun, pelaksanaannya harus diikuti dengan evaluasi serta pembenahan fasilitas keselamatan di lingkungan sekolah.
Simulasi yang melibatkan lebih dari 800 siswa dan guru tersebut turut dihadiri Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekretariat Daerah Kabupaten Nunukan, Sirajuddin, S.Sos. Kegiatan juga melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan.
Dalam simulasi tersebut, peserta diperlihatkan skenario penyelamatan korban gempa bumi dari lantai dua gedung sekolah. Petugas Damkar dan BPBD mempraktikkan teknik rappelling untuk menurunkan korban menuju area yang lebih aman.
Selanjutnya, seluruh siswa, guru, dan warga sekolah mengikuti simulasi evakuasi massal menuju titik kumpul. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pemadaman api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Tiga siswa diberi kesempatan mencoba memadamkan api tiruan. Setelah upaya awal belum berhasil, petugas Damkar memberikan contoh teknik pemadaman yang benar hingga api berhasil dipadamkan dalam waktu kurang dari dua menit.
Dari hasil pemantauan, Mansur memberikan sejumlah catatan terkait kesiapan fasilitas keselamatan sekolah. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah jalur evakuasi utama yang dinilai terlalu sempit sehingga berpotensi menimbulkan desakan ketika seluruh siswa melakukan evakuasi secara bersamaan.
“Jalur evakuasi ini perlu menjadi perhatian. Ketika seluruh siswa melakukan evakuasi secara bersamaan, akses yang terlalu sempit bisa menyebabkan mereka berdesakan. Karena itu, perlu dievaluasi agar proses penyelamatan dapat berjalan lebih aman dan tertib,” kata Mansur.
Ia meminta pihak sekolah segera mengevaluasi akses keluar, termasuk mempertimbangkan pelebaran jalur evakuasi serta penyesuaian ketinggian lantai pada bagian tertentu yang berpotensi menghambat pergerakan siswa.
Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya melalui kegiatan simulasi. Kondisi fasilitas pendukung juga harus dipastikan aman agar proses penyelamatan dapat berjalan efektif ketika terjadi keadaan darurat.
Mansur berharap simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana dapat dilaksanakan secara rutin, minimal satu kali dalam setahun. Dengan latihan berkelanjutan, siswa dan tenaga pendidik diharapkan semakin memahami prosedur evakuasi serta mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Ia juga menilai SMPN 1 Nunukan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sekolah percontohan mitigasi bencana yang dapat menjadi referensi bagi satuan pendidikan lainnya.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan dan dievaluasi. SMPN 1 Nunukan juga diharapkan bisa menjadi contoh bagi sekolah lain dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana,” ujarnya.
Selain mendorong pembenahan di tingkat sekolah, Mansur turut mengharapkan perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara melalui peninjauan langsung terhadap upaya mitigasi bencana yang dilakukan SMPN 1 Nunukan.
Menurutnya, sekolah-sekolah di wilayah perbatasan perlu mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai, baik dalam pengembangan fasilitas keselamatan maupun peningkatan kualitas pendidikan.
Ia menegaskan, penguatan mitigasi bencana di lingkungan pendidikan merupakan bagian penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, pihak sekolah, dan instansi terkait, kesiapsiagaan bencana diharapkan tidak berhenti pada kegiatan simulasi, tetapi diwujudkan melalui pembenahan fasilitas serta pembentukan budaya sadar bencana sejak dini.(Adv)
