JAKARTA,klikkaltara.id – Batik Lulantatibu, wastra khas Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, dibawa ke panggung nasional dalam ajang Kriya Nusa 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Ketua Dekranasda Kabupaten Nunukan, Andi Annisa Muthia, tampil mengenakan busana berbahan Batik Lulantatibu dalam ajang tersebut. Kehadiran wastra khas daerah perbatasan ini menjadi momentum promosi untuk memperluas pengenalan produk kriya Nunukan sekaligus membuka peluang pasar bagi para perajin lokal.
Dengan balutan busana bernuansa merah yang dipadukan motif Batik Lulantatibu, Andi Annisa membawa identitas budaya Nunukan ke hadapan publik di tingkat nasional.
Menurut Andi Annisa, keikutsertaan dalam Kriya Nusa 2026 tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya Dekranasda memperkenalkan potensi kriya dan wastra Nunukan secara lebih luas.
“Harapannya, Batik Lulantatibu semakin dikenal, bukan hanya di Nunukan, tetapi juga di tingkat nasional. Kita ingin masyarakat bangga menggunakan produk daerah sendiri,” ujar Andi Annisa.
Ia mengatakan, semakin luas Batik Lulantatibu dikenal, semakin besar pula peluang produk tersebut digunakan dan dikembangkan. Kondisi itu diharapkan berdampak terhadap keberlanjutan usaha para perajin serta membuka akses pasar yang lebih luas.
Andi Annisa juga mendorong agar Batik Lulantatibu terus dikembangkan melalui inovasi desain dan pemanfaatannya dalam berbagai model busana. Menurutnya, batik tidak harus selalu identik dengan pakaian formal.
“Batik itu bisa dipakai semua usia. Tidak harus selalu dengan model yang sama. Bisa dikreasikan sesuai gaya masing-masing, bahkan Gen Z juga bisa tampil dengan batik dengan gaya mereka sendiri,” katanya.
Menurutnya, kreativitas generasi muda menjadi salah satu kunci agar wastra daerah tetap relevan dengan perkembangan tren fesyen. Karena itu, inovasi dalam desain, pemilihan warna, hingga cara memadukan batik dengan busana kekinian perlu terus dilakukan.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan mampu menjadikan Batik Lulantatibu tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Melalui Kriya Nusa 2026, Dekranasda Nunukan ingin memperlihatkan bahwa produk kriya dari wilayah perbatasan memiliki potensi untuk dikenal lebih luas. Promosi di tingkat nasional diharapkan dapat mempertemukan karya perajin daerah dengan pasar dan konsumen dari berbagai wilayah.
“Kita ingin Batik Lulantatibu menjadi identitas yang terus hidup dan berkembang. Semakin banyak yang menggunakan dan mengenalnya, semakin besar pula peluang bagi para perajin kita untuk berkembang,” tuturnya.
Bagi Dekranasda Nunukan, memperkenalkan Batik Lulantatibu ke tingkat nasional bukan hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga mendorong wastra lokal agar mampu mengikuti perkembangan zaman dan memiliki daya saing.
Dari wilayah perbatasan Kalimantan Utara, Batik Lulantatibu kini mendapat ruang di panggung nasional. Momentum tersebut menjadi dorongan bagi Nunukan untuk terus mengembangkan kriya daerah sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi para perajinnya.(Adv)
