SEBATIK,klikkaltara.id – Seorang nelayan asal Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Asis (62), yang dilaporkan hilang kontak saat melaut di perairan Sebatik, ditemukan meninggal dunia di atas perahu miliknya di kawasan perairan perbatasan Indonesia-Malaysia, Selasa (14/7/2026) sore.
Korban ditemukan setelah tim gabungan melakukan pencarian yang melibatkan Pos TNI AL (Posal) Sei Pancang, Satgas Komando Pasukan Katak (Kopaska), Polairud, serta masyarakat nelayan Sebatik.
Komandan Posal Sei Pancang, Kapten Laut (S) Sugeng Tri Mulyanto, mengatakan laporan hilangnya kontak dengan korban diterima sekitar pukul 12.00 Wita dari Ketua Himpunan Nelayan Sebatik, Tamrin.
“Begitu menerima laporan, kami langsung berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait. Namun kondisi air laut saat itu sedang surut sehingga speedboat maupun perahu tidak dapat bergerak karena kandas. Informasi kemudian kami teruskan kepada KRI Terapang yang sedang melaksanakan patroli agar melakukan pemantauan di sekitar lokasi yang diperkirakan menjadi area pencarian,” ujar Sugeng.
Kondisi air laut yang surut sempat menghambat proses pencarian. Tim baru dapat bergerak menuju lokasi sekitar pukul 16.30 Wita setelah air mulai pasang dan armada SAR bisa berlayar.
Sekitar pukul 16.55 Wita, tim menemukan sebuah perahu berwarna biru berlis putih yang sesuai dengan ciri-ciri milik korban di koordinat 04°10’38” LU – 117°55’56” BT, kawasan perairan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Saat dilakukan pemeriksaan, korban ditemukan seorang diri di atas KM SKPT Sebatik dalam kondisi tidak bergerak dan diduga telah meninggal dunia.
“Tim langsung melaksanakan evakuasi dan membawa korban beserta perahunya menuju rumah duka di Desa Sungai Nyamuk untuk diserahkan kepada pihak keluarga,” kata Sugeng.
Korban diketahui merupakan nelayan tradisional yang sehari-hari mencari ikan di perairan Sebatik menggunakan KM SKPT Sebatik berukuran sekitar 2 Gross Ton (GT) dengan mesin 15 PK dan berbendera Indonesia.
Sugeng mengapresiasi seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian. Menurutnya, keberhasilan menemukan korban dalam waktu relatif singkat tidak lepas dari sinergi antara TNI AL, Satgas Kopaska, Polairud, dan masyarakat nelayan meski dihadapkan pada kendala pasang surut.
“Kerja sama seluruh unsur menjadi kunci dalam setiap operasi pencarian dan penyelamatan, khususnya di wilayah perairan perbatasan yang memiliki tantangan geografis dan karakteristik pasang surut yang cukup ekstrem,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan sebelum melaut dengan memastikan kondisi cuaca, kelayakan kapal, membawa alat komunikasi yang berfungsi, serta menyampaikan rencana pelayaran kepada keluarga maupun rekan sesama nelayan.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Dengan komunikasi yang baik dan laporan yang cepat, proses pertolongan dapat dilakukan lebih efektif apabila terjadi kondisi darurat di laut,” tegasnya.
Hingga Selasa malam, penyebab pasti meninggalnya korban masih menunggu penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas melaut di perairan perbatasan Indonesia-Malaysia. Perubahan cuaca, gelombang, dan pasang surut laut menjadi faktor yang harus diantisipasi setiap nelayan dengan menerapkan standar keselamatan pelayaran secara disiplin.(Oz/**)
















