NUNUKAN,klikkaltara.id — Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Muhammad Nasir, menyoroti masih tingginya ketimpangan antara produksi dan kebutuhan pangan di Kalimantan Utara (Kaltara).
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Kaltara, produksi telur lokal saat ini baru mencapai sekitar 2.100 ton per tahun. Angka tersebut jauh dari kebutuhan masyarakat yang menyentuh sekitar 25.000 ton, sehingga menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Sebagian besar kebutuhan pokok kita masih dipenuhi dari luar daerah. Bahkan sayur-mayur pun masih banyak didatangkan dari Sulawesi,” ujar Nasir, pekan ini.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Pasalnya, Kaltara dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan kemandirian pangan jika dikelola secara optimal.
Ia menegaskan, ketersediaan lahan yang luas di Kaltara seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui kebijakan yang tepat serta dukungan anggaran yang memadai.
“Potensi kita besar, tinggal bagaimana strategi yang disusun agar sektor pertanian dan peternakan bisa berkembang,” katanya.
Selain itu, Nasir juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pertanian dan peternakan. Hal ini dinilai menjadi kunci dalam mendorong produktivitas dan kualitas hasil produksi.
“Tidak hanya soal lahan, tetapi juga bagaimana kita memperkuat SDM dan teknologi agar hasil produksi bisa maksimal,” tambahnya.
Ia berharap, ke depan petani dan peternak lokal dapat semakin diberdayakan sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Kalau semua potensi ini dimaksimalkan, saya yakin kita bisa perlahan menekan ketergantungan dari luar,” tutupnya. (adv)

















