TANJUNG SELOR,klikkaltara.id – Anggota DPRD Kalimantan Utara (Kaltara) menyoroti serius defisit produksi telur ayam yang terjadi di daerah. Ketua Komisi III DPRD Kaltara, Jufri Budiman, mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
Berdasarkan data neraca pangan, produksi telur lokal di Kaltara masih jauh dari kebutuhan masyarakat. Saat ini, produksi hanya sekitar 2.108 ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai lebih dari 25 ribu ton per tahun.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar pasokan telur masih bergantung pada daerah lain seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
“Ini harus menjadi perhatian serius. Kita tidak bisa terus bergantung dari luar,” tegas Jufri, pada Kamis (19/3/2026).
Ia menilai, pemerintah daerah perlu segera memperkuat sektor peternakan lokal, khususnya ayam petelur, melalui program yang terarah dan berkelanjutan.
Sebagai solusi, Jufri menawarkan sejumlah langkah strategis, mulai dari pemberian stimulan kepada peternak berupa bantuan kandang, bibit, dan pakan, hingga pengembangan sistem peternakan terintegrasi dengan sektor pertanian.
Selain itu, ia juga mendorong keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (Perusda) atau koperasi dalam mendukung distribusi hasil produksi sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak dan konsumen.
“Kalau distribusi dan pemasaran bisa di-backup oleh Perusda atau koperasi, maka rantai pasok akan lebih kuat,” ujarnya.
Tak hanya itu, Jufri juga membuka opsi agar pemerintah daerah mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan peternakan, termasuk dari sisi produksi hingga distribusi, guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga telur di masyarakat.
Ia menegaskan, tanpa intervensi nyata dari pemerintah, defisit telur di Kaltara akan terus berlanjut dan berpotensi memicu gejolak harga di pasaran.
“Kalau kita terus menunggu investor, sampai kapan? Pemerintah harus hadir,” pungkasnya.(Adv)













