TARAKAN,klikkaltara.id – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Utara (Kaltara) dipastikan aman menjelang Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan persoalan berbeda, terutama antrean panjang untuk solar subsidi yang masih terjadi di sejumlah SPBU.
Data PT Pertamina (Persero) mencatat stok Biosolar di Fuel Terminal (FT) Tarakan mencapai 4.335 kiloliter (KL) dengan ketahanan lebih dari 1.000 hari. Sementara itu, Pertalite tercatat 657 KL dan Pertamax 76 KL. Pasokan juga terus diperkuat melalui tambahan suplai dari kapal tanker.
Meski demikian, Ketua Komisi III DPRD Kaltara, Jufri Budiman, menilai persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan stok, melainkan pada distribusi dan pengawasan di tingkat SPBU.
“Secara data memang aman, tetapi di lapangan masih terjadi antrean solar dan ada laporan SPBU yang tutup. Ini yang perlu dievaluasi,” ujar Jufri, Rabu (4/3).
Selain BBM, DPRD Kaltara juga menyoroti ketersediaan LPG. Untuk beberapa hari ke depan, pasokan LPG dipastikan aman dengan ketahanan sekitar 12 hari, ditambah suplai 150 ton yang segera masuk. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan masyarakat hingga satu bulan ke depan dinilai relatif terkendali.
DPRD pun mendorong Pertamina untuk memisahkan jalur distribusi BBM subsidi dan non-subsidi. Langkah ini dinilai penting agar konsumsi sektor industri tidak bercampur dengan kebutuhan masyarakat.
“Proyek-proyek industri harus mengambil di jalur yang sesuai, sehingga tidak mengganggu kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Wilayah perbatasan seperti Nunukan dan Malinau turut menjadi perhatian. Distribusi energi ke daerah tersebut masih bergantung pada jalur laut dengan waktu tempuh yang relatif panjang, sehingga berpotensi menimbulkan kendala tersendiri. (Adv)
