NUNUKAN,klikkaltara id – Tumpukan sampah plastik yang mengendap di sepanjang pesisir area budidaya rumput laut di Kelurahan Selisun, Nunukan Selatan, menjadi sorotan dalam agenda reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara, H. Ladullah, S.Hi, yang di adakan baru-baru ini.
Dalam pertemuan yang digelar di Jalan Pattimura itu, warga menyampaikan keluhan terkait kondisi pantai yang kian tercemar limbah kiriman. Selain merusak estetika kawasan, tumpukan sampah plastik dinilai mengancam kesehatan masyarakat serta mengganggu aktivitas budidaya rumput laut yang menjadi tumpuan ekonomi warga pesisir.
“Sejumlah warga menyampaikan berbagai pertanyaan dan aspirasi terkait permasalahan lingkungan, terutama mengenai penanganan sampah di kawasan padat penduduk,” ujar Ladullah di hadapan konstituennya.
Menurut warga, volume sampah terus meningkat, sementara sistem pengelolaannya dinilai belum berjalan optimal. Plastik-plastik yang terbawa arus laut menumpuk di garis pantai dan menyangkut di area budidaya, sehingga menyulitkan perawatan rumput laut.
Persoalan serupa juga terlihat di aliran Sungai Bolong yang melintasi permukiman warga. Sampah rumah tangga menyumbat aliran air, menimbulkan bau tak sedap dan meningkatkan risiko penyakit. Kondisi ini dinilai mencerminkan tata kelola kebersihan yang belum maksimal, termasuk di kawasan lingkar jalan yang menjadi salah satu wajah Kota Nunukan.
Menanggapi aspirasi tersebut, legislator Fraksi PKS itu mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan sekitar dua hingga tiga bulan lalu. Dari pertemuan itu, muncul gagasan inovatif untuk mengolah sampah plastik menjadi material penahan ombak.
“Pengolahan sampah menjadi penahan gelombang bisa memberi dua manfaat sekaligus, mengurangi timbunan limbah dan melindungi pesisir dari abrasi,” jelasnya.
Konsep yang ditawarkan berupa pengolahan limbah plastik menjadi balok padat berbentuk modular yang diperkuat rangka baja tahan karat. Material tersebut direncanakan dipasang di titik-titik rawan abrasi, khususnya di pesisir Kelurahan Selisun hingga Seimenggaris yang kerap terdampak hempasan ombak dan tumpukan sampah kiriman.
Selain inovasi pengolahan limbah, warga juga mengusulkan penambahan armada pengangkut sampah serta perubahan jadwal operasional menjadi malam hari agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat di siang hari.
Ladullah menegaskan, kewenangan pengelolaan sampah berada di tingkat kabupaten. Meski demikian, pihaknya akan tetap mendorong Pemerintah Kabupaten Nunukan untuk meningkatkan pelayanan kebersihan demi mengembalikan wajah pesisir yang bersih dan sehat.
Agenda reses tersebut turut dirangkai dengan buka puasa bersama yang dihadiri tokoh masyarakat, pemuda, serta pengurus Kerukunan Keluarga Bugis Sidrap (Kebugis) Nunukan. Selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan aspirasi terkait perbaikan infrastruktur lingkungan, seperti normalisasi parit dan pembukaan akses jalan yang menghubungkan kawasan permukiman dengan wilayah pantai.
Sebelumnya, anggaran pembangunan infrastruktur tersebut sempat direncanakan. Namun karena terdapat program serupa yang akan dilaksanakan oleh Dewan Kabupaten, alokasi anggaran dialihkan ke kebutuhan lain.
“Aspirasi ini akan kita kembali masukkan dalam APBD Perubahan Provinsi Kaltara, terutama untuk perbaikan infrastruktur yang menjadi harapan masyarakat di Kabupaten Nunukan,” tutupnya. (Adv)









